Pem「Football Handicap Rules」impin Perlawanan Anti

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bet365

MuFootball Handicap RulesndurnyFootbFootball Handicap RuleFootball Handicap Rulessall Handicap RulesA dua tokoh utama perlawanan Afghanistan bertentangan dengan klaim publik bahwa mereka maFootball Handicap Rulessih di Afghanistan, dan bertahan melawan Taliban.

Massoud dan Saleh sama-sama mencari bantuan dan peralatan militer dari Barat, tetapi pemerintahan Biden tidak mendukung mereka.

Massoud dilaporkan sempat menyewa pelobi Washington Robert Stryk. Dia dan Saleh dirangkul oleh tokoh Republik terkemuka AS seperti Senator Lindsey Graham, yang ingin AS kembali ke Afghanistan.

Baca juga: Amir Qatar Ingatkan Para Pemimpin Dunia tentang Pentingnya Melanjutkan Dialog Damai dengan Taliban

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Baca juga: Taliban Tunjuk Duta Besar Afghanistan untuk PBB, Ingin Berbicara dalam Sidang Umum

Kondisi saat ini juga menandakan perubahan luar biasa dalam nasib mereka. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan CIA tidak muncul untuk mendukung mereka.

Baik Massoud maupun Saleh tidak terlihat di depan umum sejak Taliban merebut Panjshir.

AS juga tidak memberikan indikasi apakah akan memberikan bantuan di masa depan, menurut dua mantan pejabat Afghanistan dan pensiunan pejabat intelijen AS.

Massoud dan Amrullah Saleh bergabung dengan mantan wakil presiden Afghanistan dan kepala intelijen lama, yang meninggalkan Afghanistan dengan helikopter.

KABUL, KOMPAS.com - Anak pemimpin perlawanan anti-Taliban Afghanistan yang paling terkenal telah melarikan diri ke negara tetangga Tajikistan, kurang dari sebulan setelah bersumpah mempertahankan tanah airnya “apa pun yang terjadi.”

Keduanya berasal dari provinsi timur laut pegunungan, basis abadi perlawanan Afghanistan, pertama melawan Uni Soviet dan kemudian Taliban.

Ahmad Massoud, putra mendiang pemimpin Aliansi Utara Ahmad Shah Massoud, melarikan diri ke Tajikistan tak lama setelah Taliban menguasai Lembah Panjshir pada 6 September, menurut seorang pejabat senior intelijen AS, konsultan Pentagon, dan dua mantan pejabat senior pemerintah Afghanistan melansir The Intercept pada Rabu (22/9/2021).