Mobile lottery betting_Mobile lottery betting_Gaming industry_Indonesia Lottery Loopholes_How to play baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bet365

SeBaccarat SuBaccarat SuBaccarat Super and How to Playper and How to Playper and How to PlaytelBaccarat Super and How to Playah putus hubungan dan kembali melajang, sudah sewajarnya kita mencari kesibukan lain agar tak semakin patah arang. Menghidupkan kembali kehidupan sosial misalnya, melihat dunia luar dan bertemu teman-teman merupakan pilihan nomor satu untuk mendistraksi pikiran. Mengetahui bahwa kamu dalam kondisi yang tidak secerah biasanya, seorang teman pastinya akan bertanya dan bersedia menjadi pendengar terbaik untuk dirimu. Saat menceritakan kandasnya hubunganmu beberapa waktu lalu, ada satu kalimat yang tidak luput terucap saat emosimu masih menggebu: 

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Tak hanya untuk diri sendiri, kamu juga sedikit banyak memikirkan bagaimana dampaknya untuk si dia nanti. Namun sayangnya, seseorang yang membuat keputusan untuk berpisah tidak selalu memikirkannya dengan matang. Mungkin yang kamu rasakan hanya bosan atau lelah dengan pertengkaran yang kerap berulang.

Meski perasaan padanya sudah nyaris tak ada lagi, kadang hati masih ragu untuk bergegas menyudahi. Sebab membuat keputusan yang berdampak pada sepasang manusia tidak semudah menjentikkan jari.

Namun, jika kamu masih memikirkannya dengan perasaan menang setelah pergi dan meminta putus, tandanya bayang mantanmu masih kentara belum terhapus. Jangan-jangan, kamu putus hanya karena terdorong emosi dan rasa ingin menyakiti. Alih-alih berhati luhur, sepertinya malah egomu yang tumbuh subur.

Banyak sebab yang memicu salah satu dari pasangan untuk menyudahi hubungannya, bisa jadi karena adanya sebuah kesalahan, atau rasa hambar yang melenyapkan kenyamanan. Apapun masalahnya, jika salah satu dari kamu dan dia sudah bulat untuk berjalan sendiri saja, sudah pasti hubunganmu tidak bisa terselamatkan.

“Gue lah yang mutusin dia!”, yang dilantangkan dengan bangga.

Saat kamu memantapkan diri untuk putus, tandanya kamu sudah siap berbesar hati menjalani hidupmu tanpa dirinya lagi. Setelah itu, kamu bisa sepenuhnya berfokus pada dirimu sendiri dan memanfaatkan waktu luangmu untuk membahagiakan diri.

Memutuskan hubungan nyatanya harus melewati berbagai fase sebelum akhirnya kembali sembuh dan bertumbuh. Ada yang cepat menemukan kebahagiaannya sesaat setelah sendiri, ada pula yang lambat dan menikmati prosesnya dengan hati-hati.

Kabar buruknya, pun jika keinginanmu sudah matang bukan berarti kamu bisa terlepas dari perasaan bersalah atau menyesal. Hal ini disebabkan oleh kamu yang merasa sedikit kesulitan beradaptasi dengan kesendirian. Saat kekosongan itu hadir, kamu mulai beranda-andai jika hubunganmu dapat dipertahankan lebih lama, seandainya kamu nggak berucap putus dan tetap ada di sisinya.

Mengakhiri hubungan adalah kegiatan yang tidak pernah menyenangkan. Siapa sangka hubungan yang kamu dan dia bina dengan saling merengkuh, akhirnya tiba pada rasa jenuh yang menjadi akar dari masalah-masalah yang semakin keruh. Namun begitulah fase pencarian, bermula dari angan-angan menuju pernikahan, lambat laun berujung sirna dan bikin harimu berantakan. 

Mungkin ini kabar kurang baik untukmu yang terburu-buru ngajak putus saat fase hubungan tak lagi seru. Kehampaan dan rasa lelah setelah bergumul dengan sejuta emosi yang meluap membuatmu berpikir pendek dan merasa bahwa kamu perlu minta putus lebih dulu, dengan harapan kamu akan terlihat lebih terhormat dan bahagia dibanding mantanmu. 

Bisa saja dia yang terlepas darimu turut merasa bahagia dengan keputusanmu, atau terjadi sebaliknya, malah kamu yang sedih dan merasa kehilangan. Seseorang yang mengajak untuk putus rentan menyesal di kemudian hari, lho.

Sementara si dia yang kamu putusin nampak lebih ngenes karena hanya bisa berpasrah menerima keadaan saat hatinya masih bertaut padamu. Padahal, belum tentu yang terjadi akan serupa dengan skenario di kepalamu.

Sayangnya, minta putus atau diputusin nggak pernah menjadi indikator kecepatannya. Memutuskan hubungan lebih dulu nggak serta merta bikin kamu merasa lebih baik dan lebih cepat move on. Sebab move on itu perkara berdamai dengan diri, siapapun punya proses dan linimasanya sendiri.

Padahal, siapa yang minta putus sebenarnya bukan perkara yang perlu dibesarkan, pun kamu nggak perlu sedih jika kamu yang diputusin oleh si dia. Mengapa demikian? Inilah 5 alasan kenapa kamu nggak perlu berbangga hati ngajak putus lebih dulu:

Sebab hubungan dibangun dari kerelaan dua insan untuk berjalan beriringan. Jadi, siapapun yang menginisiasi untuk mengakhiri, hasilnya akan sama saja. Hubunganmu akan tetap sampai pada ujungnya.